Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menemui masanya, di Sulawesi Tenggara. Dan kini tengah menimang-nimang Uang Panai-nya.
"Uang Panai" PKS
Ilustrasi
Festival Kota Tua Bouton

Tujuh daerah di Sultra yang mengikuti Pilkada serentak, seluruhnya ada logo PKS-nya di baliho pasangan calon. Kendari, Buton, Muna Barat, Buton Tengah, Buton Selatan, Kolaka Utara, dan Bombana. Manisnya, hampir semua Paslon yang diusung Partai Dakwah itu menang perang, kecuali Bombana yang menanti pergulatan di Mahkamah Konstitusi. Sulkhani (sang nahkoda) sumringah, targetnya tercapai.

Meskipun hanya satu kader yang bertarung, itupun posisi wakil, sudah cukup. Kendari adalah ibukota provinsi, jumlah pemilihnya terbanyak, 179.414 pemilih. Di daerah lainnya, PKS tinggal minta apa, dipersilahkan.

Pada pemilihan calon gubernur 2018, "Uang Panai" untuk PKS mahal. Senilai calon wakil gubernur. Sebab PKS sendiri tampaknya belum pede menduduki kursi kosong satu. Kader-kadernya belum punya nilai jual tinggi untuk jadi penantang. Kader terkuatnya, La Pili, kalah sadis di Pilkada Muna 2015. Ditambah, PKS sampai saat ini belum punya sejarah finansial yang kuat di era ekonomi karut marut kini.

Selain La Pili, bakal calon yang sekelas wakil gubernur ada pula Muhammad Poli dan Yaudu Salam Ajo. Tiga figur kepulauan yang namanya kuat, punya basis, dan jam terbang. Di daratan ada nama Andi Mansur, Rusman, Rasyid, Abu Bakar Lagu, juga punya pengalaman.

Arena Pilkada 2017 milik PKS, entah di 2018. Yang pasti, kursi bintang tamu sudah miliknya. Presenternya? Tergantung nilai tawar untuk show nanti. Bisa PAN, Golkar, PDI-P, Gerindra? Atau lagi-lagi hanya sebagai nama program acara.

Itulah PKS dengan segala kekalutan pertimbangannya. Selamat Berdzikir.

Kendari, 22 Februari 2017

Tanggapan Anda?

Facebook Conversations