Dahulu, bidadari dari kayangan turun mandi di air terjun Moramo. Kini, gerombolan monyet dari hutan yang turun mandi. Dahulu, penjaganya dapat gaji, namun kini sudah tiga tahun tidak digaji. Berikut catatan ringkas M Djufri Rachim yang ikut dalam rombongan SultraKini.com berwisata di sana, Minggu (12 Februari 2017).

Tak Bisa Terjun di Air Terjun Moramo
Penulis foto pada latar air terjun Moramo. (Foto: Umar/SultraKini.com)

Air terjun Moramo. Sesuai namanya, hanya air yang bisa bebas terjun dan meliuk-liuk hingga jauh di sana, sementara manusia tidak disarankan terjun. Walau pun sangat menggoda untuk dapat terjun pada setiap tingkat tempat air melompat ke kolam di bawahnya.

Air terjun Moramo pada tingkat lima dibawahnya ada kolam tempat mandi. (Foto: Umar/SultraKini.com)

Betapa tidak, setiap pengunjung dapat menikmati dinginnya air terjun bertingkat (cascade) tujuh serta 60-an tingkatan kecil yang sekaligus membentuk kolam, tempat penampungan air yang mengalir dari atas.

Konon, tempat itu adalah tempat mandinya para bidadari yang turun dari kayangan. Namun kini, selain manusia yang biasa datang mandi di sana adalah monyet. 

“Kalau pengunjung sepi, biasanya datang geromboloan 20-an monyet yang mandi di sana,” jelas Jumali (74), penjaga fasilitas gazebo dan toilet di kawasan air terjun Moramo kepada SultraKini.com, Minggu (12 Februari 2017).

Air terjun Moramo yang airnya mengalir seperti busa lembut. (Foto: Umar/SultraKini.com)

Pengunjung bebas mandi di kolam, namun tidak bebas melompat apalagi terjun dari ketinggian. Kolam air berbahan dasar batuan kapur memiliki kedalaman berbeda-beda. Ada tempat yang dapat dijangkau kaki manusia dewasa namun di bagian lain justru kaki akan kandas. Air kolam keruh, tak bisa melihat antara bagian dalam dan kandas.

Jika melompat dari puncak atau tepian dinding air terjun bisa bahaya. Seperti dialami Harto Rasyid (jurnalis SultraKini.com yang wisata bersama rekan-rekan kantornya) melompat dari ketinggian sekitar 1 meter, kakinya membentur dasar kolam hingga cedera. 

Untuk itu disarankan jika mandi di kolam tak perlu lompat apalagi ikut terjun. Namun jika sekadar memanjat dinding-dinding tebing yang airnya deras tidak apa-apa. Dinding itu tidak licin karena terbentuk dari batuan kapur.

Ada dua kolam yang sering digunakan untuk mandi atau berenang para pengunjung yakni pada kolam yang terletak di tingkat kedua dan tingkat ke lima. Kolam kedua lebih luas dan rata, sedangkan kolam di tingkat ke lima cenderung sempit.

Air terjun ini dikunjungi wisatawan --kebanyakan lokal Sulawesi Tenggara, seperti Kota Kendari, Kabupaten Konawe dan Konawe Selatan)—setiap hari. Kebanyakan Sabtu dan Minggu atau hari libur lain.

“Hari-hari biasa tetap ada pengunjung tetapi sedikit, antara tiga hingga lima mobil masuk. Kalau hari Sabtu dan Minggu yang ramai,” kata seorang pedagang buah di area parkir air terjun.

Air terjun Moramo ditemukan tahun 1980 oleh seorang transmigrasi asal Jawa berburu dan memasang jerat anoa. Resmi beroperasi sebagai tempat wisata publik pada 20 Desember 1989, seiring peresmian Menteri Pariwisata dan Telekomunikasi Republik Indonesia, Soesilo Soedarman. 

Saat itu, secara teknis dikelola langsung oleh Dinas Pariwisata Provinsi Sultra. Gubernurnya adalah Alala, sedangkan Kepala Dinas Pariwisata adalah Ghalib.

Panjaga air terjun Moramo, Jumali, yang sudah tiga tahun tidak mendatkan gaji. (Foto: Djufri Rachim/SultraKini.com)

Kawasan wisata itu dijaga sejumlah orang yang di SK-kan Dinas Pariwisata Pemprov Sultra. Salah satunya adalah Jumali yang masih bekerja hingga saat ini.

Jumali mengaku honor pertamanya Rp50 ribu per bulan. Nilainya tinggi. “Saat itu bisa buat beli dua karung beras,” kata Jumali.

Pada tahun 1998, pengelolaan air terjun Moramo kemudian diambil alih oleh Pemda Kabupaten Konawe di Unaaha. Jumali masih bekerja di sana dengan honor Rp75 ribu per bulan.

Kemudian tahun 2001, Kabupaten Konawe mekar dengan lahirnya Kabupaten Konawe Selatan. Air terjun Moramo masuk kabupaten baru ini. Jumali naik gaji menjadi Rp300 ribu per bulan. Uangnya diterima rutin hingga 2013. Namun mulai tahun 2014 hingga saat ini, Jumali tidak pernah lagi mendapatkan gajinya.

Bupati Konawe juga sudah berganti, dari Imran dua periode (10 tahun) ke Bupati Surunuddin Dangga. Namun nasib Jumali bukannya makin membaik. Padahal ia dan sejumlah rekannya penjaga area wisata air terjun Moramo sudah dimasukan dalam calon pegawai negeri sipil kategori dua (CPNS K2). Namun hingga kini masih Enjel alias tidak jelas.

Bukan hanya itu, kawasan wisata air terjun Moramo juga semakin tak terurus dengan baik. Masih ada 2,5 KM jalan masuk tidak teraspal. Jalan setapak dan jembatan menuju puncak air terjun rusak. Sampah dan batang-batang pohon tumbang tak terurus, walaupun sejumlah tempat sampah drum bekas masih bisa berfungsi.

Sejumlah bangunan yang dikerjakan TNI dari 725 Woroagi tahun 1989 sudah roboh. Rumah toilet yang ada sekarang sudah nyaris roboh pula.

Dari bilik rumah toilet itulah Jumali bisa menghidupi istrinya. Ia mendapatkan jasa perawatan Rp3.000 pada setiap pengguna, dan Rp50 ribu sewa gazebo per hari.

Air Terjun Moramo terletak di Desa Sumber Sari, Kecamatan Moramo, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara. Ia masuk dalam kawasan Hutan Suaka Alam Tanjung Peropa dengan luas 38.937 hektar. Pada peta dan koordinat GPS: 3° 58' 2.96" S 122° 35' 40.92" E.

Sejumlah awak media SultraKini.com foto di area permaindian air terjun Moramo. (Foto: Umar/SultraKini.com)

Tanggapan Anda?

Facebook Conversations