Perseteruan politik harus berakhir seiring lahirnya pemimpin baru. Baik di tingkat nasional maupun lokal. Jika tidak maka bangsa ini masih akan terus mempertontonkan praktisi-praktik yang merugikan bangsa itu sendiri. Contoh kecil, yang acap kali terjadi di pemerintahan daerah, pembangunan terhambat di akhir masa jabatan seorang kepala daerah dan tidak dilanjutkan oleh kepala pemerintahan baru.
Hari Pahlawan, Perjuangan Revolusi Masa Lalu ke Revolusi Mental Masa Kini

Hari Pahlawan, Perjuangan Revolusi Masa Lalu ke Revolusi Mental Masa Kini

Oleh Sumartono

(Penulis: Mahasiswa Jurnalistik FISIP Universitas Halu Oleo)

Menjadi negara yang merdeka tidaklah mudah. Untuk merebut kemerdekaan telah menelan korban yang tak terhingga, karena Indonesia terjajah bukan waktu singkat. Indonesia lahir dari perjuangan yang gigih dan gagah berani. Perjuangan rakyat saat itu hanya memiliki modal senjata bambu runcing dan beberapa pucuk senjata api. Bambu runcing melawan senjata modern, padahal hal yang mustahil jika dipikirkan untuk menang. Tetapi ini adalah hal yang nyata dan terjadi. Itulah Indonesia yang lahir di dalam genangan darah yang menjelma menjadi air, rumah menjadi debu, samudera mengalirkan api, badan menjadi korban senjata api. Hamparan badan tergeletak di mana-mana, dari usia muda sampai usia tua.

Begitulah gambaran kegigihan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaannya. Walaupun bangsa penjajah yang datang silih berganti, dengan menggunakan berbagai cara. Perjuangan rakyat Indonesia tetap antusias, sangat berani dan tidak mudah putus asa memagari pulau nusantara dengan jiwa perkasa.

Hari ini, sang saka merah putih telah berkibar di mana-mana tanpa ada tekanan dari bangsa lain. Setiap tanggal 17 Agustus  bangsa Indonesia menyambut kemerdekaannya. Menjiwai berkibarnya bendera merah putih yang suci dan gagah berani, generasi hari ini sudah seharusnya memelihara kemerdekaan dengan mengamalkan Pancasila, UUD 1945 dan memelihara bhineka tunggal ika.

Hari ini 10 November, bangsa Indonesia kembali memperingati perjuangan generasi perebut kemerdekaan tersebut. Itulah hari pahlawan. Peringatan penuh hikmat, seperti halnya peringatan hari kemerdekaan yang sudah 71 tahun dirayakan.

Hari ini sudah 7 kali pergantian kepala pemerintahan Indonesia. Berbagai cara yang dilakukan untuk membenahi negara ini, tetapi berbagai peristiwa yang merugikan negara dan rakyat tetap masih ada. Contohnya korupsi di berbagai instansi, pungli yang telah berkepanjangan di berbagai level, pembangunan yang terhambat setiap pergantian kepemimpinan, kasus besar tidak perna terungkap, narkoba menjerat berbagai kalangan, pelecahan seksual merengguk usia muda.

Mentalitas yang seakan sudah membudaya ini sangat bertolak belakang dengan amanah Pancasila dan UUD 1945, sehingga pemerintah Republik Indonesia di bawah komando Presiden Joko Widodo saat ini mengumandangkan perlunya Revolusi Mental. Suatu perubahan fundamental dalam cara berfikir, perilaku dan sikap.

Generasi saat ini membutuhkan penguatan integritas. Kerja keras dan sifat gotong royong sebagai kekuatan bangsa perlu terus dipupuk. Untuk membangun bangsa yang maju, generasi bangsa dituntut menjadi manusia baru. 

Perubahan hari ini adalah perubahan generasi yang mampu membangun jiwa bangsa Indonesia. Perubahan akan semakin pesat, jika pendidikan di Indonesia dimaksimalkan sejak sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

Perseteruan politik harus berakhir seiring lahirnya pemimpin baru. Baik di tingkat nasional maupun lokal. Jika tidak maka bangsa ini masih akan terus mempertontonkan praktisi-praktik yang merugikan bangsa itu sendiri. Contoh kecil, yang acap kali terjadi di pemerintahan daerah, pembangunan terhambat di akhir masa jabatan seorang kepala daerah dan tidak dilanjutkan oleh kepala pemerintahan baru. 

Di Kendari banyak contoh, sebutlah pembangunan P2ID (Pusat Promosi dan Informasi Daerah) yang dibangun Gubernur Sultra La Ode Kaimoeddin. Setelah digantikan gubernur Ali Mazi, PdID terlantar lalu Ali Mazi membuat tugu “Persatuan” di jantung Kota Kendari. Pembangunan tugu ini belum selesai masa jabatan Ali Mazi berakhir dan digantikan gubernur Nur Alam yang kemudian membangun jembatan lintas teluk dan sebuah masjid di tengah teluk.

Pembangunan dua mega proyek tersebut sementara berjalan, sementara masa jabatan Nur Alam sebagai gubernur Sultra dua periode tak panjang lagi umurnya.

Akankah nasib jembatan dan masjid teluk itu akan bernasib sama dengan P2ID dan tugu persatuan yang ditelantarkan? Tentu hanya gubernur pengganti Nur Alam kelak yang akan menjawabnya.

Namun perlu diingatkan bahwa, jika generasi bangsa dahoeloe mengangkat bambu runcing dalam sebuah revolusi mengusir penjajah maka generasi bangsa hari ini, termasuk di dalamnya calon pemimpin bangsa, calon pemimpin daerah, tidak terkecuali gubernur pengganti Nur Alam di Sultra adalah mempunyai tanggung jawab mengisi kemerdekaan. Menyingkirkan perbedaan pandang, merevolusi mental agar tidak mencontoh mental buruk di masa pemerintahan sebelumnya.

Jika tidak maka masyarakat akan semakin yakni bahwa saat ini tidak ada lagi pahlawan yang menjadi pejuang sejati untuk Indonesia. 

Tanggapan Anda?

Facebook Conversations