SULTRAKINI.COM: KONAWE- Pemecatan delapan dosen Universitas Lakidende (Unilaki) yang dilakukan sepihak oleh kubu Yayasan Lakidende Razak Porosi (YLRP) dinilai cacat hukum oleh Kubu Pengelola Yayasan Lakidende (YL).
Lembaran SK pemecatan delapan dosen Unilaki oleh Kubu YLRP

Rektor Unilaki kubu YL, Dr. Arifin Banasuru, mengaku heran atas kebijakan pemecatan delapan dosen Unilaki tersebut. Ia sendiri bingung mencari dasar hukum pemecatan ke delapan dosen yang diangkat berdasarkan SKatas nama pengelola YL itu.

"Dasar hukumnya mereka dipecat apa? Yang mengangkat mereka itu SK dari pengelola YL. Sementara yang memecat mereka justru dari YLRP, yang tidak ada kaitannya dengan YL," jelasnya,” Rabu (11/01/2017).

Dia mengungkapkan, selain delapan dosen yang diberhentikan secara tidak hormat per tanggal 28 Desember 2016 lalu itu, ia mendapat kabar kalau masih ada dosen lagi yang akan diberhentikan. Ia menyayangkan hal tersebut karena sangat mengganggun proses akademik.

"Sebagai contoh, ada lima dosen dari jurusan Bahasa Inggris yang sudah diberhentikan. Tentu hal tersebut sudah sangat mengganggu proses akademik, bahkan bisa membuat jurusan itu tutup lantaran tidak punya dosen lagi," terangnya.

Arifin juga menyoroti suasana akademik kampus yang sudah tidak kondusif lagi. Salah satunya dengan adanya dugaan intimidasi dan ancaman oleh birokrasi kampus untuk men-drop out (DO) para mahasiswa yang tidak mau lagi mengikuti seminar hasil, skripsi dan kuliah sebelum kejelasan pengelola kampus Unilaki itu terselesaikan.

Sebagaimana diketahui, delapan dosen yang telah diberhentikan oleh kubu YLRP adalah Drs. H. Syafruddin Pasuay, M.Si, Saasa,S.Pd.,M.Hum, Untung, SS., M.Pd, Nur Jana, Anie Wulandari Azis, S.Pd., M.Pd,Darmin, S.Pd., M.Pd, Rety Reka Merlins, S.Sos., M.A, Hasni Agili, S.Pd., M.Pd.

Mereka dipecat berdasarkan SK nomor 135/YYSN-LDK-RPR-XII/2016,tertanggal 28 Desember 2016. Delapan dosen itu diduga dipecat lantaran mencoba memperjelas status yayasan pengelola Unilaki yang sah sesuai SK Kemendikbud No. 02/D/O/1996.

Laporan: Mas Jaya

Facebook Conversations