Perasaan miris akan selalu muncul ketika mendengar kasus pembuangan bayi atau pembunuhan anak yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri. Bagaimana bisa seorang Ibu begitu tega memperlakukan darah dagingnya sendiri dengan cara yang tidak manusiawi? Padahal, anak tidak sepantasnya diganjar demikian. “Apa salahku, Ibu?”
Ibu Produk Kapitalisme, Buah Nyata Liberalisasi Keluarga

Oleh: Hasni Tagili

(Dosen & Aktivis MHTI Konawe)


Menyoal Ibu Produk Kapitalisme

Tak henti-hentinya kita disuguhi dengan drama memilukan terkait kekerasan terhadap anak yang dilakukan oleh ibunya sendiri. Baru-baru ini publik kembali dikejutkan dengan peristiwa kematian Brian, seorang Balita berusia 4 tahun, yang dianiaya oleh ibunya sendiri, Siska. Karena kesal dituduh suaminya tidak bisa mengurus anak, Siska menendang anaknya hingga meninggal dunia (FamilyNet.com, 22/11/2016). Kini, hanya sesal mendalam yang tersisa.

Bulan Oktober lalu juga tersiar berita senada. Seorang istri prajurit Polri, Mutmainah (28th), telah melakukan pemutilasian dengan keji terhadap dua anak kandungnya akibat depresi (Kendari Pos, 03/10/2016). Pelaku yang merupakan warga Gang Jaya 24 Cengkareng itu telah memutilasi dua anaknya, namun salah satu anaknya bisa diselamatkan. (Merdeka.com,03/10/2016).

Perilaku sadis serupa tidak berhenti sampai disitu. Agustus lalu pun peristiwa pembunuhan anak, Ami (11th), oleh ibunya sendiri, Leha (27th), akibat si Ibu kesal dengan suaminya kembali terjadi (12/08/2016). Usai bertengkar dengan suaminya, Leha pulang ke rumah orangtuanya. Di hari nahas itu, Leha mengajak Ami menyusul bapaknya yang tengah bekerja di kebun. Keduanya naik sepeda motor. Di tengah jalan, tersangka mengaku sepeda motor yang ia kendarai mogok. Meski sudah berulangkali di-engkol, mesinnya tetap tidak bisa hidup. Saat itu, Ami terus merengek sehingga menyulut emosi Leha. Wanita tersebut melihat anaknya seperti melihat suaminya sendiri. Spontan ia memukul Ami hingga terjengkang dan menusuknya dengan pisau. Sungguh keterlaluan!

Awal tahun 2015 lalu, seorang Ibu tega membuang bayinya sendiri. Mayat bayi tersebut disimpan di dalam kantong plastik dan diletakkan di toilet rumah sakit (09/01/2015). Bayi yang dibuang tersebut merupakan hasil hubungan gelap pelaku dengan pacarnya. Tak kalah mirisnya, seorang Ibu tega menghanyutkan bayinya yang masih berusia 1 tahun di sungai karena alasan masalah ekonomi dan kerap dimarahi oleh mertuanya (Merdeka.com,07/01/2015).

Beragam kejadian yang masih serumpun itu membuktikan bahwa para wanita tersebut telah mati fitrah keibuannya. Mereka merupakan sosok Ibu yang lahir dari rahim kapitalisme, dimana wanita-wanita ini tidak menyadari bagaimana fitrah dan peran mereka sesungguhnya sebagai seorang Ibu.

Matinya Fitrah dan Peran Ibu

Menyikapi berbagai kasus kekerasan anak yang dilakukan oleh Ibunya sendiri, setidaknya akan kita dapati 3 faktor penyebab tercetaknya generasi Ibu produk kapitalisme. Pertama, maraknya pergaulan bebas tentu saja menjadi lahan basah guna menumbuhsuburkan perilaku liar. Pasangan yang belum menikah pun telah berani mengumbar kemesraan merekadi depan publik. Di hadapan khalayak ramai saja mereka tidak menunjukkan malu, apalagi jika hanya berduaan saja.

Kematangan nafsu yang tidak dibarengi dengan kematangan berfikir membuat lelaki labil memilih jalan meng-aborsi-kan pacarnya ketika ketahuan si wanita ternyata hamil. Kalau sudah begini, ‘Ibu karbitan’ tadi tidak punya pilihan selain ‘membunuh’ anaknya sendiri.

Kedua, persoalan ekonomi selalu memiliki porsi tersendiri di setiap lini permasalahan secara global, tak terkecuali masalah kekerasan anak yang dilakukan oleh Ibu kandungnya sendiri. Nafkah bulanan yang tidak mencukupi dari suami, terkadang memicu si Ibu untuk bekerja pula. Lantaran sibuknya bekerja, Ibu akhirnya lupa mengurus anaknya. Jadilah percekcokan antara si Ibu dan suaminya. Entah suami protes karena si istri bekerja, atau karena tidak mengurus anak mereka. Kalau pun istri pada akhirnya tidak bekerja meski dihimpit kesulitan ekonomi, hal tersebut juga berpotensi menjadikan si Ibu mengalami stres berat akibat tidak sanggup memikirkan kebutuhan rumah tangga yang banyak, sementara penghasilan suaminya tidak berbanding lurus dengan kebutuhan tersebut.

Ketiga, buruknya komunikasi antara suami/keluarga dan istri turut memperparah kondisi psikologis seorang Ibu. Keadaan suami yang bertindak masa bodoh, menganggap bahwa ketika istri telah menerima gaji bulanan maka tugas suami pun selesai. Padahal suami seharusnya memperhatikan komunikasi terhadap istri, mengerti peran istri, dan memperlakukan istri dengan ma’ruf. Seringkali sang istri pun tidak mampu mengungkapkan keinginan dan pendapatnya kepada suami sehingga kekesalan dan kejenuhannya semakin menjadi. Belum lagi jika pihak keluarga memperlakukan istri dengan buruk, tentu saja chaos takakan bisa terhindarkan.

Kerusakan sistem kapitalisme mendorong terciptanya ketiga faktor tadi. Betapa tidak, sistem ini menyebabkan matinya fitrah seorang ibu. Sistem kapitalis adalah sebuah peraturan hidup yang lahir dari ide sekularis (pemisahan agama dari kehidupan). Sistem ini sangat berorientasi pada materi (uang, harta, dll) dan menjadikan ide liberal (kebebasan) sebagai pijakan kehidupan. Banyak kaum ibu secara tidak sadar terjebak dalam ide ini. Kapitalisme menjadikan materi sebagai standar hidup.Manusia jadi ingin punya uang yang banyak agar bisa beli rumah, kendaraan, HP terbaru, makan di restoran mewah, shopping, sekolah keluar negeri, dll.

Manusiawi memang jika kita menginginkan itu semua, namun yang perlu kita ingat bahwa semua itu bukan lah tujuan hidup. Kita tidak boleh melepaskan kewajiban-kewajiban sebagai ibu yang memiliki peran penting dalam mengurus dan mendidik generasi. Selain itu, seorang wanita juga memiliki kewajiban untuk taat pada suami.

Kapitalisme juga memicu depresi sosial. Dalam kehidupan rumah tangga, stres bisa disebabkan oleh berbagai hal seperti kejenuhan dalam menghadapi anak-anak yang sulit diatur, tidak mau makan atau tidur, membuat rumah berantakan setelah ibu lelah membersihkan rumah, perlakuan buruk dari suami/keluarga/lingkunga, dan sebagainya. Pandangan hidup seseorang pun sangat berpengaruh pada bagaimana orang tersebut menjalani kehidupannya. Pandangan hidup tanpa disertai standar yang jelas tentu akan mempengaruhi cara berpikir dan perilaku seseorang.

Sistem kapitalisme juga membuat bergesernya peran ibu. Ibu tidak lagi menyadari perannya yang berkaitan langsung dengan pemenuhan fungsi edukasi, reproduksi (berketurunan), proteksi (perlindungan), ekonomi, sosial, edukasi (pendidikan), afektif (kehangatan dan kasih sayang), rekreasi, dan fungsi reliji (keagamaan). Kapitalisme yang tengah mencengkram keluarga membuat suami pun tidak menyadari perannya sebagai pemimpin dalam rumah tangga yang harusnya mengarahkan keluarga yang dipimpinnya.

Being a Real Mother!

Islam telah menetapkan dua peran penting seorang perempuan yaitu sebagai ibu dan pengelola rumah tangga. Dalam Muqaddimah Dustur Nizham al-Ijtima’i dinyatakan, “Hukum asal seorang wanita dalam Islam adalah ibu bagi anak-anaknya dan pengelola rumah suaminya. Ia adalah kehormatan yang wajib dijaga.” Selain itu, negara yang menjaga ketakwaan individu akan menjamin terlaksananya peran ini dengan membekali para ibu agar mampu menjalankan tugas.

Maka berbahagialah para ibu Muslimah karena Allah SWT memuliakan mereka. Diriwayatkan bahwa Jahimah as-Salami pernah memohon izin kepada Rasulullah SAW untuk berjihad. Rasul bertanya kepadanya apakah ia masih memiliki ibu. Saat beliau mengetahui bahwa ia meninggalkan seorang ibu, beliau bersabda, “Hendaklah engkau tetap berbakti kepada dia karena surga ada di bawah telapak kakinya.” (HR ath-Thabrani dan an-Nasa’i).

Sebagai seorang ibu, perempuan wajib memiliki pengetahuan luas tentang metode mendidik anak agar nantinya terbentuk pribadi berkepribadian Islam yang cerdas dan bertakwa. Sebagaimana fitrah perempuan yang menjadi ibu yang menyayangi dan selalu mendampingi anak-anaknya, di dalam mendidik anak tentu saja akan ada hambatan. Tapi seorang ibu ‘dituntut’ harus sigap dalam proses tersebut. Persiapan menyandang gelar ibulah yang harus ditempuh ketika kita ingin lulus dalam ujian mendidik anak. Jauh sebelum menikah, seorang wanita harus menjaga pergaulan, menutup aurat, menjagalisan, dan menghiasi dirinya dengan ilmu. Sehingga, ia tidak mudah terjangkiti depresi sosial.

Sebagai seorang pengurus rumah tangga,perempuan juga dimuliakan. Sehingga, melalui perannya ini, istri harus menjamin terpenuhinya kebutuhan hidup sehari-hari, kenyamanan tempat tinggal, dan keharmonisan di dalamnya. Lihat bagaimana jawaban Rasulullah SAW saat Asma’ binti Yazid menyampaikan kebimbangannya terkait apakah peran istri di rumah akan sama mulia dengan peran laki-laki? Rasulullah SAW bersabda, “Pahamilah, wahai perempuan, dan ajarkanlah kepada para perempuan di belakang kamu. Sesungguhnya amal perempuan bagi suaminya, meminta keridhaan suaminya dan mengikuti apa yang disetujui suaminya setara dengan amal yang dikerjakan oleh kaum lelaki seluruhnya.”

Untuk bisa menjalankan tugasnya mengasuh dan mendidik anak dengan seoptimal mungkin, mencari nafkah dibebankan kepada suami atau walinya, begitu pula perlindungan dan keamanannya. Selain itu,merupakan kewajiban bagi seorang suami untuk memenuhi kebutuhan istrinya dengan ma’ruf, mengarahkan mereka pada kebaikan dan, melindungi mereka.

Tak kalah pentingnya, dalam mekanisme Islam, negara akan memfasilitasi pengoptimalisasian fungsi keluarga, sehingga fitrah dan peran Ibu dapat terjaga. Maka, hanya dengan sistem Islam, peran ibu sebagai pencetak generasi muda yang berakhlak mulia dan bermutu dapat dihidupkan kembali. Kelak, anak-anak itu lah yang akan meneruskan kehidupan Islam di dunia.

Wallahu’alam bisshawab.

Tanggapan Anda?

Facebook Conversations