Tentu kata Politik sudah tidak asing lagi di ruang dengar sahabat mahasiswa sekalian. Secara etimologis, kata politik (sâsa-yasûsu-siyâsah) mesti dikembalikan pada makna aslinya, yakni: mengurus.
Menjadi Pemuda Peka Politik
Festival Kota Tua Bouton
Penulis: Siti Maisaroh

Festival Kota Tua Bouton

Sementara itu, secara terminologis, yang juga disandarkan pada realitas historis kehidupan politik Rasulullah SAW dan para khalifah sesudahnya, bisa diambil pengertian politik Islam (as-siyâsah al-islâmiyyah), yaitu penanganan urusan umat, baik urusan dalam negeri maupun urusan luar negeri, berdasarkan kaidah-kaidah syariat (Lihat: Abdul Qadim Zallum, Al-Afkâr as-Siyâsah, hlm. 7,Dar al-Ummah, Beirut, Lebanon: 1994). Itulah makna politik dalam Islam, tidak serupa dengan politik praktis ala demokratis yang diterapkan negeri ini.

Sebagai agen penerus perubahan, kita meski peka dong dengan yang namanya politik. Tapi, apakah kaum pemuda saat ini doyan kalau diajak ngobrol atau mikir tentang politik? Yuk kita menilik sejenak bagaimana gambaran mayoritas pemuda khususnya mahasiswa saat ini.

Fakta mayoritas pemuda mahasiswa saat ini

Apatis artinya tidak peduli atau masa bodoh. Mahasiswa yang apatis berarti mahasiswa yang tidak peduli atau tidak memiliki kepedulian terhadap lingkungan sekitar,terhadap kondisi bangsannya dan bersikap masa bodoh serta tidak peduli. Sikap seperti inilah yang dimliki kebanyakan mahasiswa saat ini. Mahasiswa apabila didefinisikan sebagai kaum intelektual muda tentunya saat ini akan banyak pertanyaan yang mempertanyakanya. Kenapa? sebab lebel sebagai intelektual mudaseakan tidak terlihat dalam diri para mahasiswa saat ini.

Sikap apatis mahasiswa dalam melihat kondisi sekitarnya secara fakta dan realita yang menyangkut masa depan bangsa dan negeri ini serta keberadaan orang banyak pun sudah merajalela tertanam dalam diri mahasiswa hari ini.

Sungguh tragis, kepekaan dan sikap kritis yang seharusnya menjadi life style, mind style dan paradigma idealis para mahasiswa dalam berfikir kini malah justru dilupakan bahkan ditinggalkan. Jiwa reformis dan revolusioner seakan menghilang dalam sanubari hati nurani mahasiswa sebagai kaum intelektual muda yang akan menjadi iron stock (cadangan dimasa depan) baik berupa ide dan konsep pemikirannya, kontribusi dan kerja-kerja nyatanya.

Hedonis, adapun perilaku hedonis dengan budaya konsumerisme atau konsumtif yang sering dilakukan para mahasiswa dengan mengatasnamakan modernitas dan life style seakan-akan menyempurnakan sikap dan kondisi mahasiswa hari ini yaitu apatisdan hedonis. Sehingga menghasilkan sifat-sifat personal yang kerdil yaitu individualistik apatis-hedonis life-style. Mementingkan diri sendiri tidak peduli dengan keadaan yang ada, kondisi sekitar juga orang lain, miskin ide, mudah frustasi,bertingkah laku bodoh dan semaunya. Kesehariannya hanya terbenak, hari ini pakai baju apa? Di pasangkan dengan kerudung warna apa? Sepatu dan tas warnaapa?. Itulah sifat dan sikap yang terlihat dalam diri mahasiswa hari ini.

Pragmatis cenderung mengutamakan segi praktis dan instan. Baik buruknya sesuatu ditentukan dengan kebermanfaatannya, baik bila menghasilkan keuntungan yang besar dan buruk bila merugikan. Cenderung mengabaikan proses untuk mendapatkan tujuan dan cita-citanya. Bahkan dalam prosesnya terkadang menabrak norma-norma yang telah ada. Mahasiswa sekarang ini cenderung melakukan hal itu mulai dari dalam perkuliahan maupun diluar perkuliahan.Contoh terdekatnya, memakai jasa pembuatan skripsi bersih.

Pemikiran para intelektual atau kaumterpelajar seakan tidur. Lantas,hal-hal konkrit apa dan bagaimana yang bisa dilakukan atau dikontribusikan oleh pemuda dalam hal politik?. Kita meski tahudulu bahwa politik yang hakiki adalah hal yang tidak terpisahkan dari agamaatau Islam itu sendiri. Karena Islam memang datang dengan seperangkat aturannyauntuk mengatur kehidupan manusia, agar manusia tidak mengambil sistem  Sekularisme atau pemisahan agama dari kehidupan. Seperti yang terjadi di negara kita sekarang, dimana agama dipisahkan jauh dari politik. Sehingga para pemimpin kita semena-mena membuat aturan sesuai kemampuan akal mereka yang terbatas, lantas diberlakukan untuk mengatur masyarakat.

Hal-hal konkrit yang dapat dilakukan pemuda dalam halpolitik, diantaranya ialah:

1. Memperdalam pemahaman Islam

Memperdalam ilmu Islam,dimana mempelajarinya secara keseluruhan. Karena Islam adalah agama yang sempurna. Ilmu Islam yang berisikan syariat atau aturannya adalah standar yang akan menjadi bekal dalam diri sesorang ketika menghadapi problematika atau masalah di kehidupannya. Banyak media atau sarana yang dapat kita gunakan untuk menunjang pemahaman kita akan ilmu Islam (diskusi, membaca artikel, video,dll). Menuntut ilmu Islam sangat di utamakan.

Sebagaimana dalam QS.Mujadilah 11 bahwa “Allah mengangkat orang beriman dan memiliki ilmu diantara kalian beberapa derajat dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Rasulullah SAW, juga bersabda “Barang siapa yang Allah menghendaki kebaikanpadanya, maka Allah akan membuat dia paham dalam agama” (HR.Bukhari dan Muslim).

2. Peduli akan kondisi kaum muslim

Siapa saja yang bangun pagi dan hanya memperhatikan masalah dunia maka orang tersebut tidak berguna sedikitpun di sisi Allah. Siapa yang tidak memperhatikan urusan kaum Muslim maka ia tidak termasuk golongan mereka (HR.At- Tabrani dari Abu Dzar al-Ghifari). Rasa dan sikap peduli pada sesama muslim harus ditumbuh suburkan dalam benak setiap kita khususnya pemuda. Kita tidak boleh hanya berkutat pada 3 K saja (kampus, kos dan kampung). Bagaimana keadaan saudara muslim kita di Rohingya, di Myanmar dll, kita harus peduli. Tidak cukup sebatas mengshare dan komen di FB, tapi kita harus berjuang agar aturan Islam segera diterapkan, karena hanya dengan Islam mereka dan kita semua akan mendapatkan keadilan.

3. Mendakwahkan Islam

Sudah selayaknya kita yakin dan bangga kepada Islam. Sehingga, kita akan merasa memilikinya. Permasalahan apapun yang terjadi dimasyarakat semua ada solusinya dalam Islam. Ketika kita melihat ada sebuah permasalahan, maka hadirkanlah Islam sebagaisolusi.

Rasulullah SAW telah bersabda, “Siapa saja diantara kalian yang melihat kemunkaran, hendaklah mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah mengubah dengan lisannya. Jika tidak mampu, hendaklah mengubah dengan hatinya. Sesungguhnya hal itu adalah selemah-lemahnya iman” (HR.Muslim, Ahmad, AbuDawud, At-Tirmidzi, an-Nasa’i dan ibnu Majah).

Olehnya, pelaksanaan dakwah amar makruf nahi munkar ini, sesungguhnya tidak ada toleransi atau keringanan untuk ditinggalkan dengan alasan ketidakmampuan.

“Dan orang-orang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh mengerjakan yang ma’ruf,mencegah dari yang munkar, mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan merekata’at pada Allah dan rasulnya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah;sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha bijaksana” (TQS. At-Tawbah: 71).

Sejarah mencatat, pemuda-pemuda Islam dimasa kejayaan Islam dahulu adalah para pemuda yang menghabiskan waktu, tenaga,pikiran dan semuanya hanya untuk kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Dakwah  menjadi bagian keseharian mereka. Pastilah mereka sudah mendapatkan pendidikan politik sejak dini.

Lihatlah shahabat Ali bin Abi Thalib ra,sekalipun saat itu tak terdefinisikan apa itu pendidikan politik, tapi dipastikan Ali ra sudah mendapatkan pendidikan politik dan melakukan aktivitas politik bersama Rasulullah SAW di usia masih sangat muda. Bayangkan, di usia delapan tahun Ali  masuk Islam dengan sembunyi-sembunyi. Ia juga menjalankan syariat dan berjuang serta berdakwah bersama Rasulullah SAW. Berbagai ancaman harus dihadapinya  bahkan terkadang  nyawa menjadi taruhannya. Itulah cara sang Ali ra cilik berpolitik bersama Rasulullah SAW. 

Masih banyak lagi kisah yang lainnya, yang menggambarkan bahwa pemuda-pemuda muslim dahulu pun ikut terjun dalam kegiatan politik atau mengurusi urusan umat. Semestinya kita meneladani mereka, tidak meneladani artis-artis yang tujuan hidupnya tidak jelas.

Duhai pemuda intelektual ambilah peranan pentingmu sebagai agen perubahan, para penguasa kita saat ini lebih berpihak pada pengusaha dari pada rakyatnya. Mereka menjauhkan aturan Islam dari negara,agama dan Al Qur’an kita telah dinistakan. Terlalu perih jika melihat kesewenagan mereka namun kita hanya diam. Kinilah saatnya pemuda bangkit, berpikir dan bergerak mengembalikan kejayaan Islam dalam naungan negara Islam (khilafah).

Wallahu a’lamu bishowab.


(Penulis adalah mahasiswa Universitas Muhamadiyah Buton, berlamat di Baubau Jl. Waode Wau no 51. No HP: 0852 4100 7457)

Tanggapan Anda?

Facebook Conversations